Sendratari Ramayana Candi Prambanan

Ditulis pada Senin, 16 Desember 2013 | Kategori: Kalender Event | Dilihat 2347 kali

Kisah Ramayana yang dibawakan pada pertunjukan ini serupa dengan yang terpahat pada Candi Prambanan. Seperti yang banyak diceritakan, cerita Ramayana yang terpahat di candi Hindu tercantik mirip dengan cerita dalam tradisi lisan di India. Jalan cerita yang panjang dan menegangkan itu dirangkum dalam empat lakon atau babak, penculikan Sinta, misi Anoman ke Alengka, kematian Kumbakarna atau Rahwana, dan pertemuan kembali Rama-Sinta. Seluruh cerita disuguhkan dalam rangkaian gerak tari yang dibawakan oleh para penari yang rupawan dengan diiringi musik gamelan. Anda diajak untuk benar-benar larut dalam cerita dan mencermati setiap gerakan para penari untuk mengetahui jalan cerita. Tak ada dialog yang terucap dari para penari, satu-satunya penutur adalah sinden yang menggambarkan jalan cerita lewat lagu-lagu dalam bahasa Jawa dengan suaranya yang khas. Cerita dimulai ketika Prabu Janaka mengadakan sayembara untuk menentukan pendamping Dewi Shinta (puterinya) yang akhirnya dimenangkan Rama Wijaya. Dilanjutkan dengan petualangan Rama, Shinta dan adik lelaki Rama yang bernama Laksmana di Hutan Dandaka. Di hutan itulah mereka bertemu Rahwana yang ingin memiliki Shinta karena dianggap sebagai jelmaan Dewi Widowati, seorang wanita yang telah lama dicarinya. Untuk menarik perhatian Shinta, Rahwana mengubah seorang pengikutnya yang bernama Marica menjadi Kijang. Usaha itu berhasil karena Shinta terpikat dan meminta Rama memburunya. Laksama mencari Rama setelah lama tak kunjung kembali sementara Shinta ditinggalkan dan diberi perlindungan berupa lingkaran sakti agar Rahwana tak bisa menculik. Perlindungan itu gagal karena Shinta berhasil diculik setelah Rahwana mengubah diri menjadi sosok Durna. Di akhir cerita, Shinta berhasil direbut kembali dari Rahwana oleh Hanoman, sosok kera yang lincah dan perkasa. Namun ketika dibawa kembali, Rama justru tak mempercayai Shinta lagi dan menganggapnya telah ternoda. Untuk membuktikan kesucian diri, Shinta diminta membakar raganya. Kesucian Shinta terbukti karena raganya sedikit pun tidak terbakar tetapi justru bertambah cantik. Rama pun akhirnya menerimanya kembali sebagai istri. Anda tak akan kecewa bila menikmati pertunjukan sempurna ini sebab tak hanya tarian dan musik saja yang dipersiapkan. Pencahayaan disiapkan sedemikian rupa sehingga tak hanya menjadi sinar yang bisu, tetapi mampu menggambarkan kejadian tertentu dalam cerita. Begitu pula riasan pada tiap penari, tak hanya mempercantik tetapi juga mampu menggambarkan watak tokoh yang diperankan sehingga penonton dapat dengan mudah mengenali meski tak ada dialog. Anda juga tak hanya bisa menjumpai tarian saja, tetapi juga adegan menarik seperti permainan bola api dan kelincahan penari berakrobat. Permainan bola api yang menawan bisa dijumpai ketik Hanoman yang semula akan dibakar hidup-hidup justru berhasil membakar kerajaan Alengkadiraja milik Rahwana. Sementara akrobat bisa dijumpai ketika Hanoman berperang dengan para pengikut Rahwana. Permainan api ketika Shinta hendak membakar diri juga menarik untuk disaksikan. Di Yogyakarta, terdapat dua tempat untuk menyaksikan Sendratari Ramayana. Pertama, di Purawisata Yogyakarta yang terletak di Jalan Brigjen Katamso, sebelah timur Kraton Yogyakarta. Di tempat yang telah memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) pada tahun 2002 setelah mementaskan sendratari setiap hari tanpa pernah absen selama 25 tahun tersebut, anda akan mendapatkan paket makan malam sekaligus melihat sendratari. Tempat menonton lainnya adalah di Candi Prambanan, tempat cerita Ramayana yang asli terpahat di relief candinya.

 
Ramayana story that brought on the show similar to those carved on the temple Prambanan. As many told, the story of Ramayana carved in beautiful Hindu temple is similar to the story in oral tradition in India. The storyline is long and stressful it was summarized in four plays or round, kidnapping Sita, Anoman mission to Alengka, Kumbakarna or Ravana's death, and the reunion of Rama-Sita.

The whole story presented in a series of dance performed by dancers with handsome accompanied by gamelan music. You are invited to completely dissolve in the story and observe each movement of the dancers to know the storyline. There is no spoken dialogue of the dancers, the only speakers are Sinden depicting the story through songs in the Java language with a distinctive voice.

The story begins when King Janaka held a contest to determine the companion Dewi Shinta (daughter) who eventually won Rama Wijaya. Followed by the adventures of Rama, Shinta and Rama's brother Lakshmana in the forest named Dandaka. In the forest that they meet Ravana who wants to have her because regarded as the incarnation of Goddess Widowati, a woman who had long sought.

To draw attention Shinta, Ravana change his followers named Marica to Kijang. The effort was successful because Shinta was attracted and asked Rama to chase. Laksama looking Rama would not go back after a long while Shinta abandoned and given the protection of a magic circle that Ravana could not kidnap. Protection failed because Shinta successfully kidnapped after Ravana transform itself into a figure Drona.

At the end of the story, Shinta successfully retaken from Ravana by Hanuman, the monkey figure agile and powerful. But when brought back, Rama Shinta actually not trust anymore and thought has been tarnished. To prove the sanctity of self, Shinta asked to burn his body. Sanctity Shinta proved because his body was not burned but little she became more beautiful. Rama finally take her back as his wife.

You will not be disappointed if this is perfect to enjoy the show because there is only the dance and music are prepared. Lighting is prepared such that the beam is not only a mute, but is able to describe certain events in the story. Similarly makeup on each dancer, not only beautify, but also able to describe the character's character so that the audience can easily identify even though there was no dialogue.

You also can find not only dance, but also an interesting scene like a fireball game dancers acrobatics and agility. Charming fireball game can be found Hanuman original type to be burned alive Alengkadiraja actually managed to burn the kingdom belongs to Ravana. While acrobatics can be found when Hanuman war with Ravana followers. The game was about to fire when Shinta burn themselves also interesting to watch.

In Yogyakarta, there are two places to watch the Ramayana. First, in Purawisata Yogyakarta, located in Jalan Brig Katamso east Kraton. In place that has solved the Indonesian Record Museum (MURI) in 2002 after staging the ballet every day without fail for 25 years, you will get a dinner package at once see the ballet. Place the other watch is in Prambanan, a sculpted original Ramayana story on temple reliefs.